Jumat, 15 Maret 2013

Air bah Nuh


AIR BAH


Pembinasaan manusia dan binatang melalui bencana banjir yang hebat pada zaman Nuh, pada tahun 2370 SM. Bencana terbesar sepanjang sejarah umat manusia ini didatangkan oleh Yehuwa karena manusia yang fasik telah memenuhi bumi dengan kekerasan. Nuh yang adil-benar dan keluarganya, seluruhnya delapan jiwa, beserta binatang-binatang yang dipilih, selamat dalam sebuah bahtera, atau peti, raksasa.—Kej 6:9–9:19; 1Ptr 3:20; lihat BAHTERA; NUH.


Jangkauan Air Bah. Ini bukan banjir atau hujan lebat yang melanda secara tiba-tiba di satu daerah saja. Sebenarnya, kata Yunani yang digunakan dalam Alkitab untuk menunjuk kepada Air Bah adalah ka·ta·kly·smos′, bencana yang besar. (Luk 17:27, Rbi8, ctk.) Banjir lokal hanya berlangsung selama beberapa hari; banjir yang dibahas di sini berlangsung selama satu tahun, yang sebagian besar adalah waktu yang dibutuhkan air untuk surut. Betapa tidak masuk akal untuk beranggapan bahwa Nuh menggunakan waktu selama kira-kira 50 atau 60 tahun untuk membangun sebuah peti raksasa sebesar kira-kira 40.000 m3, hanya untuk menyelamatkan keluarganya serta beberapa binatang dari suatu banjir lokal! Jika suatu daerah yang relatif kecil saja yang terlanda, untuk apa spesimen ”setiap makhluk hidup, dari setiap jenis daging” harus dibawa dalam bahtera agar ”keturunannya tetap hidup di seluruh permukaan bumi”? (Kej 6:19; 7:3) Ini pasti air bah seluas dunia, yang belum pernah terjadi dan juga tidak pernah terjadi lagi setelah itu. ”Air meliputi bumi sedemikian hebatnya sehingga menutupi semua gunung tinggi yang ada di bawah seluruh langit. Sampai lima belas hasta [± 6,5 m] air meliputinya dan menutupi gunung-gunung.” (Kej 7:19, 20) ”Akhir segala makhluk telah tiba di hadapanku,” firman Yehuwa, maka ”aku akan menghapuskan dari permukaan bumi segala yang ada yang telah kubuat”; dan itulah yang terjadi. ”Matilah segala yang memiliki napas dan daya kehidupan yang aktif di lubang hidungnya, yakni semua yang ada di tanah yang kering . . . hanya Nuh serta mereka yang ada bersamanya di dalam bahtera tetap hidup.”—Kej 6:13; 7:4, 22, 23.


Waktu Terjadinya Air Bah. Air Bah tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan sebelumnya. Pembangunan bahtera membutuhkan waktu bertahun-tahun, dan selama itu juga Nuh, sang ”pemberita keadilbenaran”, memperingatkan generasi yang fasik itu. (2Ptr 2:5) Akhirnya, batas waktu itu habis ”pada tahun keenam ratus dari kehidupan Nuh, pada bulan kedua, pada hari ketujuh belas bulan itu”. ”Jantan dan betina dari setiap jenis makhluk” telah dibawa masuk ke dalam bahtera bersama keluarga Nuh, juga cukup persediaan makanan untuk semua, dan ”setelah itu Yehuwa menutup pintu”. Lalu ”terbukalah pintu-pintu air di langit”. (Kej 7:11, 16) Hujan lebat turun tanpa henti selama ”empat puluh hari dan empat puluh malam”; ”air terus meliputi bumi” selama seratus lima puluh hari. (Kej 7:4, 12, 24) Lima bulan setelah hujan turun, bahtera itu ”terhenti di atas Pegunungan Ararat”. (Kej 8:4) Hampir dua setengah bulan kemudian barulah ’tampak puncak-puncak pegunungan’ (Kej 8:5), baru tiga bulan kemudian Nuh menyingkirkan penutup bahtera dan melihat bahwa tanah dapat dikatakan sudah kering (Kej 8:13), dan hampir dua bulan kemudian, pintu dibuka lalu mereka yang selamat sekali lagi menginjakkan kaki di atas tanah kering.—Kej 8:14-18.


Nuh dan keluarganya masuk ke dalam bahtera pada tahun ke-600 dari masa kehidupan Nuh, pada bulan ke-2 (Oktober-November), pada hari ke-17. (Kej 7:11) Satu tahun berikutnya (satu tahun terdiri dari 360 hari) adalah hari ke-17, bulan ke-2, tahun ke-601. Sepuluh hari setelah itu adalah hari ke-27 dari bulan ke-2, dan pada hari itulah mereka keluar, setelah berada dalam bahtera selama total 370 hari, atau kurang dari 371 hari penuh. (Kej 8:13, 14) Dalam catatan yang dibuat Nuh, tampaknya ia menggunakan patokan bulan yang panjangnya masing-masing 30 hari, sehingga 12 bulan sama dengan 360 hari. Dengan cara ini, ia menghindari pecahan-pecahan yang rumit andaikata ia secara kaku menggunakan patokan bulan kamariah yang masing-masing terdiri dari 291⁄2 hari lebih sedikit. Cara penghitungan yang disebutkan terdahulu itulah yang digunakan dalam kisah ini, dan ini terbukti dari fakta bahwa suatu periode lima bulan terdiri dari 150 hari.—Kej 7:11, 24; 8:3, 4.


Air yang Menyebabkan Banjir. Konon, jika semua uap air dalam atmosfer tiba-tiba tercurah sebagai hujan, air yang menggenang di seluruh permukaan bumi setinggi-tingginya hanya mencapai beberapa sentimeter. Maka dari manakah datangnya air yang menyebabkan banjir besar pada zaman Nuh ini? Menurut kisah dalam Kejadian, Allah berfirman kepada Nuh, ”Lihat, aku [Yehuwa] akan mendatangkan air bah [atau ”samudra di langit”; Ibr., mab·bul′] ke atas bumi.” (Kej 6:17, Rbi8, ctk.) Pasal berikutnya menggambarkan apa yang terjadi, ”Pada hari itu pecahlah semua sumber air yang dalam dan sangat luas dan terbukalah pintu-pintu air di langit.” (Kej 7:11) Begitu hebatnya Air Bah itu sehingga ”menutupi semua gunung tinggi yang ada di bawah seluruh langit”.—Kej 7:19.


Dari mana asalnya ”samudra di langit” ini? Kisah penciptaan dalam Kejadian menceritakan bagaimana Allah membuat angkasa di sekeliling bumi pada ”hari” kedua, dan angkasa ini (yang disebut ”Langit”) memisahkan air yang ada di bawahnya, yaitu samudra, dan air yang ada di atasnya. (Kej 1:6-8) Air yang tertahan di atas angkasa tetap berada di sana sejak ”hari” penciptaan yang kedua sampai Air Bah. Itulah yang dimaksud rasul Petrus ketika ia mengatakan bahwa ”sejak zaman dahulu, melalui firman Allah ada langit dan tanah yang padat yang keluar dari air dan berdiri di tengah-tengah air”. ”Langit” tersebut dan air yang ada di atas dan di bawahnya adalah sarana yang digunakan Allah melalui firman-Nya, dan ”dengan sarana itu, dunia pada waktu itu mengalami kebinasaan ketika dibanjiri air”. (2Ptr 3:5, 6) Ada berbagai penjelasan tentang bagaimana air itu tertahan di atas sampai Air Bah dan tentang proses yang menyebabkan air itu tercurah. Tetapi semuanya hanya spekulasi. Alkitab hanya mengatakan bahwa Allah membuat angkasa dengan air yang ada di atasnya dan bahwa Ia mendatangkan Air Bah. Mengingat bahwa Ia mahakuasa, hal itu dapat dilaksanakan dengan mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar