Rabu, 13 Maret 2013

SETAN

 



[Penentang].

Di banyak ayat dalam Kitab-Kitab Ibrani, kata sa·tan

muncul tanpa kata sandang tentu. Dalam pemunculan pertamanya, kata tersebut digunakan untuk malaikat yang berdiri di jalan guna melawan Bileam sewaktu ia pergi dengan tujuan mengutuk orang Israel. (Bil 22:22, 32) Dalam pemunculan lain, yang dimaksudkan adalah orang-orang yang melawan atau menentang orang lain. (1Sam 29:4; 2Sam 19:21, 22; 1Raj 5:4; 11:14, 23, 25) Namun, kata itu digunakan dengan kata sandang tentu ha untuk memaksudkan Setan si Iblis, Musuh utama Allah. (Ayb 1:6, Rbi8, ctk.; 2:1-7; Za 3:1, 2) Dalam Kitab-Kitab Yunani, kata sa·ta·nas digunakan untuk Setan si Iblis dalam hampir semua pemunculannya dan biasanya disertai kata sandang tentu ho.


Asal
Usul. Tulisan-Tulisan Kudus memperlihatkan bahwa makhluk yang dikenal sebagai Setan tidak dari dahulu menyandang nama itu. Sebaliknya, nama deskriptif itu diberikan kepadanya karena ia mengambil haluan menentang dan melawan Allah. Nama yang ia miliki sebelumnya tidak disebutkan. Allah adalah satu-satunya Pencipta, dan ’kegiatan-Nya sempurna’, tanpa ketidakadilan atau ketidakadilbenaran. (Ul 32:4) Karena itu, sewaktu diciptakan Allah, pribadi yang menjadi Setan adalah makhluk yang sempurna dan adil-benar. Ia adalah pribadi roh, karena ia muncul di surga, di hadirat Allah. (Ayb psl. 1, 2; Pny 12:9) Mengenai dia, Yesus Kristus mengatakan, ”Dia adalah pembunuh manusia sejak semula, dan dia tidak berdiri kukuh dalam kebenaran, karena kebenaran tidak ada dalam dirinya.” (Yoh 8:44; 1Yoh 3:8) Di ayat itu Yesus memperlihatkan bahwa Setan pernah berada dalam kebenaran, tetapi telah meninggalkan kebenaran. Sejak tindakan nyatanya yang pertama ketika memalingkan Adam dan Hawa dari Allah, ia adalah pembunuh manusia, karena ia mengakibatkan kematian atas Adam dan Hawa, yang selanjutnya, mendatangkan dosa dan kematian kepada keturunan mereka. (Rm 5:12) Dalam seluruh Tulisan-Tulisan Kudus, sifat dan tindakan yang dihubungkan dengan dirinya hanya dapat dikaitkan dengan suatu pribadi, bukan dengan suatu prinsip kejahatan yang abstrak. Jelaslah bahwa orang-orang Yahudi, dan Yesus serta murid-muridnya, tahu bahwa Setan ada sebagai suatu pribadi.

Jadi, walaupun memiliki permulaan yang adil-benar dan sempurna, pribadi roh ini menyimpang kepada dosa dan kemerosotan. Proses terjadinya hal itu diuraikan Yakobus ketika ia menulis, ”Masing-masing dicobai dengan ditarik dan dipikat oleh keinginannya sendiri. Kemudian apabila keinginan itu telah menjadi subur, ia akan melahirkan dosa; selanjutnya apabila dosa telah terlaksana, ia akan menghasilkan kematian.” (Yak 1:14, 15) Haluan yang diambil Setan dalam beberapa hal tampaknya sama dengan haluan raja Tirus sebagaimana diuraikan di Yehezkiel 28:11-19.—Lihat SEMPURNA, KESEMPURNAAN (Pedosa pertama dan raja Tirus).

Oleh karena itu, catatan Alkitab membuat jelas bahwa Setan itulah yang berbicara melalui ular sebagai medium, menggoda Hawa untuk tidak taat kepada perintah Allah. Selanjutnya, Hawa mempengaruhi Adam untuk mengambil haluan pemberontakan yang sama. (Kej 3:1-7; 2Kor 11:3) Karena Setan menggunakan ular, Alkitab memberi Setan gelar ”Ular”, yang akhirnya berarti ”penipu”; ia juga menjadi ”Penggoda itu” (Mat 4:3) serta pendusta, ”bapak dusta”.—Yoh 8:44; Pny 12:9.

Sengketa
Kedaulatan Timbul. Ketika Setan menghampiri Hawa (melalui kata-kata si ular), ia sebenarnya menantang keabsahan dan keadilbenaran kedaulatan Yehuwa. Ia menyiratkan bahwa Allah secara tidak benar menahan sesuatu dari wanita itu; ia juga menyatakan bahwa Allah berdusta ketika mengatakan bahwa wanita itu akan mati jika dia memakan buah yang terlarang. Selain itu, Setan membuat dia percaya bahwa dia akan bebas dan independen dari Allah serta menjadi seperti Allah. Dengan cara itu, makhluk roh yang fasik tersebut mengangkat dirinya lebih tinggi daripada Allah di mata Hawa, dan Setan menjadi allahnya, meskipun pada waktu itu Hawa tampaknya tidak mengetahui identitas pribadi yang menyesatkan dia. Melalui tindakannya ia membawa pria dan wanita ke bawah kepemimpinan dan kendalinya, membuat dirinya sebagai allah saingan yang menentang Yehuwa.—Kej 3:1-7.

Sewaktu memberikan pandangan sekilas tentang keadaan di surga, Alkitab menyingkapkan bahwa Setan, sebagai allah saingan, belakangan menghadap Yehuwa di surga, menantang Yehuwa di hadapan muka-Nya dengan mengatakan bahwa ia dapat memalingkan hamba Allah, Ayub, dan secara tidak langsung setiap hamba Allah, sehingga menjauhi Dia. Pada dasarnya ia menuduh bahwa Allah secara tidak adil-benar memberi Ayub segala sesuatu, disertai perlindungan penuh, sehingga ia, Setan, tidak dapat menguji Ayub dan memperlihatkan apa yang sebenarnya ada dalam hatinya yang, menurut Setan, adalah buruk. Ia menyiratkan bahwa Ayub melayani Allah terutama karena pertimbangan yang mementingkan diri. Setan membuat jelas pokok argumennya ini ketika ia berkata, ”Kulit ganti kulit, segala sesuatu yang dimiliki orang akan ia berikan ganti jiwanya. Kali ini, ulurkanlah kiranya tanganmu, sentuhlah sampai ke tulangnya dan dagingnya dan lihatlah apakah ia tidak akan mengutuki engkau di mukamu.”—Ayb 1:6-12; 2:1-7; lihat KEDAULATAN.

Dalam kasus khusus ini, Yehuwa membiarkan Setan mendatangkan malapetaka atas Ayub dengan tidak turun tangan sewaktu Setan menyebabkan para penyamun, orang Syeba, melakukan penyergapan dan juga menyebabkan kawanan ternak sekaligus para gembalanya dimusnahkan oleh apa yang disebut utusan Ayub sebagai ”api dari Allah” dari langit; apakah hal itu berupa kilat atau api lain tidak disebutkan. Setan juga menyebabkan tiga kelompok orang Khaldea melakukan penyerbuan, serta timbulnya badai angin. Semua hal tersebut mengakibatkan kematian semua anak Ayub dan membinasakan harta miliknya. Akhirnya, Setan menimpakan penyakit yang sangat menjijikkan atas Ayub sendiri.—Ayb 1:13-19; 2:7, 8.

Semua hal itu menyingkapkan kekuatan dan kuasa makhluk roh Setan, dan juga sikapnya yang ganas dan haus darah.

Akan tetapi, yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa Setan menyadari ketidakberdayaannya terhadap perintah Allah yang tegas, sebab ia tidak menantang kuasa dan wewenang Allah sewaktu Allah membatasinya untuk tidak mengambil kehidupan Ayub.—Ayb 2:6.

Terus
Melawan Allah. Dengan menantang Allah dan menuduh hamba-hamba Allah tidak mempunyai integritas, Setan bertindak selaras dengan gelarnya ”Iblis”, yang artinya ”Pemfitnah”, yaitu gelar yang patut diterimanya karena telah memfitnah Allah Yehuwa di taman Eden.

Hantu-hantu

fasik lainnya bergabung. Sebelum Air Bah pada zaman Nuh, tampaknya malaikat-malaikat Allah lainnya meninggalkan tempat kediaman mereka yang sepatutnya di surga, dan juga kedudukan yang ditetapkan atas mereka di sana. Setelah menjelma dalam tubuh manusia, mereka tinggal di bumi, mengawini wanita-wanita dan menghasilkan keturunan yang disebut Nefilim. (Kej 6:1-4; 1Ptr 3:19, 20; 2Ptr 2:4; Yud 6; lihat NEFILIM; PUTRA[-PUTRA] ALLAH.) Malaikat-malaikat tersebut telah meninggalkan dinas kepada Allah sehingga berada di bawah kendali Setan. Maka Setan disebut ”penguasa hantu-hantu”. Pada suatu peristiwa, sewaktu Yesus mengusir hantu-hantu dari seorang pria, orang-orang Farisi menuduhnya melakukan hal tersebut dengan kuasa ”Beelzebul, penguasa hantu-hantu”. Yang mereka maksudkan adalah Setan dan hal ini nyata dari jawaban Yesus, ”Jika Setan mengusir Setan, ia menjadi terbagi dan saling berlawanan.”—Mat 12:22-27.

Rasul Paulus menghubungkan Setan dengan ”kumpulan roh yang fasik di tempat-tempat surgawi”, dan ia menyebut mereka sebagai ”para penguasa dunia dari kegelapan ini”. (Ef 6:11, 12) Sebagai kuasa pengendali di alam yang tidak kelihatan persis di sekeliling bumi, Setan adalah ”penguasa dari wewenang udara”. (Ef 2:2) Dalam buku Penyingkapan, ia diperlihatkan sebagai pribadi yang ”sedang menyesatkan seluruh bumi yang berpenduduk”. (Pny 12:9) Rasul Yohanes mengatakan bahwa ”seluruh dunia berada dalam kuasa si fasik”. (1Yoh 5:19) Dengan demikian, dialah ”penguasa dunia ini”. (Yoh 12:31) Karena itulah Yakobus menulis bahwa ”persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah”.—Yak 4:4.

Perjuangannya
untuk Membinasakan sang ’Benih’. Sejak awal Setan berupaya menggagalkan janji tentang ’benih’ yang akan datang melalui Abraham. (Kej 12:7) Ia tampaknya mencoba membuat Sara tercemar sehingga tidak pantas untuk melahirkan sang benih; tetapi Allah melindunginya. (Kej 20:1-18) Ia berbuat sebisa-bisanya untuk membinasakan orang-orang yang Allah pilih sebagai benih Abraham, yaitu bangsa Israel, dengan menyebabkan mereka berdosa dan dengan mendatangkan bangsa-bangsa lain untuk melawan mereka, sebagaimana diperlihatkan dalam seluruh sejarah Alkitab. Peristiwa penting dalam upaya ambisius Setan untuk memerangi Allah, dan apa yang tampaknya suatu keberhasilan bagi Setan, adalah sewaktu raja Kuasa Dunia Ketiga dalam sejarah Alkitab, Babilon, mencaplok Yerusalem, menggulingkan pemerintahan Raja Zedekia yang berasal dari garis keturunan Daud, dan menghancurkan bait Yehuwa, menelantarkan Yerusalem dan Yehuda.—Yeh 21:25-27.

Sebagai alat Setan, dinasti Babilon yang memerintah, yang pada mulanya dipimpin oleh Nebukhadnezar, menahan Israel dalam pembuangan selama 68 tahun, sampai Babilon digulingkan. Babilon tidak pernah berniat membebaskan tawanannya dan dengan demikian mencerminkan upaya-upaya yang sombong serta ambisius dari Setan sendiri sebagai allah saingan yang menentang Penguasa Universal, Yehuwa. Raja-raja Babilonia, yang menyembah ilah berhala mereka, yakni Marduk, dewi Istar, dan masih banyak yang lain, sebenarnya adalah penyembah hantu-hantu dan, sebagai bagian dari dunia yang terpisah dari Yehuwa, berada di bawah kekuasaan Setan.—Mz 96:5; 1Kor 10:20; Ef 2:12; Kol 1:21.

Setan membuat raja Babilon berambisi untuk memegang kekuasaan penuh atas bumi, bahkan atas ”takhta Yehuwa” (1Taw 29:23) dan ”bintang-bintang Allah”, yaitu raja-raja dalam garis keturunan Daud yang duduk di atas takhta di G. Moria (dalam pengertian yang lebih luas, Zion). ”Raja” ini, yakni dinasti Babilon, ’mengangkat dirinya’ di dalam hatinya sendiri, dan di matanya serta di mata para pengagumnya ia adalah ”yang bersinar”, ”putra fajar”. (Dalam beberapa terjemahan, istilah ”Lusifer” dari Vulgata Latin dipertahankan. Akan tetapi, istilah tersebut hanyalah terjemahan dari kata Ibrani heh·lel

, ”yang bersinar”. Heh·lel bukanlah nama atau gelar, melainkan istilah yang menggambarkan sikap sombong dinasti raja-raja Babilon dari garis keturunan Nebukhadnezar.) (Yes 14:4-21) Mengingat Babilon adalah alat Setan, ’rajanya’ mencerminkan hasrat ambisius Setan sendiri. Sekali lagi, Yehuwa datang menyelamatkan umat-Nya dengan memulihkan mereka ke negeri mereka, sampai Benih perjanjian yang sebenarnya datang.—Ezr 1:1-6.

Upaya-upaya

untuk menyebabkan Yesus tersandung. Karena tentu mengetahui bahwa Yesus adalah Putra Allah dan pribadi yang dinubuatkan akan meremukkan kepalanya (Kej 3:15), Setan berbuat sebisa-bisanya untuk membinasakan Yesus. Namun, sewaktu mengumumkan kepada Maria bahwa dia akan mengandung Yesus, malaikat Gabriel memberi tahu dia, ”Roh kudus akan datang ke atasmu, dan kuasa Yang Mahatinggi akan menaungi engkau. Oleh karena itu, juga apa yang dilahirkan akan disebut kudus, Putra Allah.” (Luk 1:35) Yehuwa melindungi Putra-Nya. Upaya-upaya untuk membinasakan Yesus sewaktu masih kecil tidak berhasil. (Mat 2:1-15) Allah terus melindungi Yesus semasa mudanya. Setelah pembaptisan Yesus, Setan menghampirinya di padang belantara dengan tiga godaan berat untuk mengujinya secara habis-habisan dalam sengketa pengabdian kepada Yehuwa. Dalam salah satu godaannya Setan memperlihatkan kepada Yesus semua kerajaan dunia, dan mengaku bahwa semua itu adalah miliknya. Yesus tidak membantah pengakuannya itu. Meskipun demikian, Yesus menolak untuk memikirkan, bahkan untuk sekejap saja, ”jalan pintas” apa pun untuk mendapatkan kekuasaan sebagai raja, ia juga tidak mempertimbangkan sejenak untuk melakukan sesuatu semata-mata demi menyenangkan dirinya. Jawabannya yang langsung kepada Setan adalah, ”Pergilah, Setan! Karena ada tertulis, ’Yehuwa, Allahmu, yang harus engkau sembah, dan kepada dia saja engkau harus memberikan dinas suci.’” Setelah itu, ”Iblis . . . undur dari dia sampai kesempatan lain yang tepat”. (Mat 4:1-11; Luk 4:13) Hal itu mengilustrasikan kebenaran kata-kata Yakobus yang ditulis belakangan, ”Lawanlah Iblis, dan ia akan lari darimu.”—Yak 4:7.

Yesus selalu waspada akan siasat licik Setan dan akan fakta bahwa Setan ingin agar ia binasa dengan mencoba untuk membuatnya memikirkan gagasan yang bertentangan dengan kehendak Yehuwa. Hal itu dipertunjukkan sewaktu Petrus, pada suatu peristiwa, meskipun dengan niat baik, sebenarnya sedang memberikan godaan kepada Yesus. Sebelumnya, Yesus telah berbicara tentang penderitaan dan kematian yang bakal ia alami. ”Lalu Petrus membawanya ke samping dan menghardik dia, dengan mengatakan, ’Berbaik-hatilah terhadap dirimu sendiri, Tuan; engkau sama sekali tidak akan mendapat nasib demikian.’ Tetapi, sambil membalikkan diri, ia mengatakan kepada Petrus, ’Pergilah ke belakangku, Setan! Engkau adalah balok sandungan bagiku, karena engkau memikirkan, bukan pikiran Allah, melainkan pikiran manusia.’”—Mat 16:21-23.

Selama pelayanannya Yesus selalu terancam bahaya; Setan memperalat manusia untuk menentang Yesus, berupaya untuk menyebabkannya tersandung atau membunuhnya. Sekali peristiwa, orang-orang hampir membawa Yesus dengan paksa untuk menjadikannya raja. Tetapi ia tidak mau mempertimbangkan hal semacam itu; ia mau menerima kekuasaan sebagai raja hanya pada waktu dan dengan cara yang Allah tentukan. (Yoh 6:15) Pada peristiwa lain, orang-orang dari kampung halamannya berupaya membunuh dia. (Luk 4:22-30) Ia terus diganggu oleh orang-orang yang Setan gunakan untuk mencoba menjebaknya. (Mat 22:15) Tetapi dalam semua upayanya, Setan tidak berhasil membuat Yesus melakukan dosa terkecil apa pun dalam pikiran atau perbuatan. Setan benar-benar terbukti sebagai pendusta, dan ia gagal sehubungan dengan tantangan atas kedaulatan Allah dan integritas para hamba Allah. Sebagaimana yang Yesus katakan, tidak lama sebelum kematiannya, ”Sekarang ada penghakiman atas dunia ini; sekarang penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar”—sama sekali direndahkan. (Yoh 12:31) Setan mencengkeram seluruh umat manusia dengan dosa. Namun, karena tahu bahwa Setan tidak lama lagi akan menyebabkan kematiannya, setelah merayakan Paskah-nya yang terakhir dengan murid-muridnya, Yesus dapat mengatakan, ”Penguasa dunia ini datang. Dan ia tidak berkuasa atas diriku.”—Yoh 14:30.

Beberapa jam kemudian, Setan berhasil menyebabkan Yesus dihukum mati, mula-mula dengan menguasai salah seorang rasul Yesus, kemudian menggunakan para pemimpin Yahudi dan Kuasa Dunia Romawi untuk mengeksekusi Yesus dengan cara yang menyakitkan dan memalukan. (Luk 22:3; Yoh 13:26, 27; psl. 18, 19) Di sini Setan bertindak sebagai ”pribadi yang mempunyai sarana penyebab kematian, yaitu si Iblis”. (Ibr 2:14; Luk 22:53) Tetapi dalam hal ini Setan gagal mencapai tujuannya; ia mau tidak mau hanya menggenapi nubuat, yang menyatakan bahwa Yesus harus mati sebagai korban. Kematian Yesus dalam keadaan tidak bercela menyediakan harga tebusan bagi umat manusia, dan dengan kematiannya (disusul dengan kebangkitan oleh Allah) Yesus kini dapat membantu umat manusia yang berdosa untuk lolos dari cengkeraman Setan, sebab, sebagaimana tertulis, Yesus menjadi darah dan daging ”agar melalui kematiannya ia dapat meniadakan pribadi yang mempunyai sarana penyebab kematian, yaitu si Iblis; dan agar ia dapat memerdekakan semua orang yang oleh karena takut akan kematian, berada dalam perbudakan sepanjang kehidupan mereka”.—Ibr 2:14, 15.

Terus

memerangi orang Kristen. Setelah kematian dan kebangkitan Yesus, Setan terus dengan sengit memerangi para pengikut Kristus. Catatan dalam buku Kisah dan surat-surat dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen menyediakan banyak sekali bukti tentang hal itu. Paulus mengatakan bahwa ia telah diberi ”duri dalam daging, yaitu malaikat dari Setan untuk terus menampar” dirinya. (2Kor 12:7) Dan, seperti halnya dalam kasus Hawa, Setan menyamarkan sifat dan tujuannya yang sebenarnya dengan ”mengubah dirinya menjadi malaikat terang”, dan ia mempunyai kaki tangan, pelayan-pelayan yang ”juga terus mengubah diri mereka menjadi pelayan-pelayan keadilbenaran”. (2Kor 11:14, 15) Beberapa contohnya ialah para rasul palsu yang memerangi Paulus (2Kor 11:13) dan orang-orang di Smirna ”yang mengatakan bahwa mereka adalah orang Yahudi padahal bukan, melainkan sinagoga Setan”. (Pny 2:9) Setan tidak pernah berhenti menuduh orang-orang Kristen ”siang dan malam”, menantang integritas mereka, seperti ia menantang integritas Ayub. (Pny 12:10; Luk 22:31) Tetapi orang Kristen mempunyai ”penolong di hadapan Bapak, yaitu Yesus Kristus, pribadi yang adil-benar”, yang menghadap pribadi Allah untuk kepentingan mereka.—1Yoh 2:1.

Pelemparan
ke dalam Jurang yang Tidak Terduga Dalamnya dan Pembinasaan Akhir. Pada waktu Setan membuat Hawa dan kemudian Adam memberontak terhadap Allah, Allah berfirman kepada si ular (sebenarnya kepada Setan, mengingat binatang semata tidak dapat mengerti sengketa yang tersangkut), ”Debulah yang akan kaumakan sepanjang hari-hari kehidupanmu. Dan aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan wanita itu dan antara benihmu dan benihnya. Ia akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:14, 15) Di ayat ini Allah memberi tahu bahwa Setan, yang dikeluarkan dari organisasi kudus Allah, tidak akan memiliki harapan untuk hidup tetapi, seolah-olah, akan ’makan debu’ sampai ia mati. ’Benih’ itu akhirnya akan meremukkan kepalanya, yang artinya mengakibatkan luka yang memautkan. Ketika Kristus berada di bumi, hantu-hantu mengidentifikasinya sebagai Pribadi yang akan mencampakkan mereka ke dalam ”jurang yang tidak terduga dalamnya”, yang rupanya adalah keadaan terkungkung dan disebut sebagai ’penyiksaan’ dalam kisah paralelnya.—Mat 8:29; Luk 8:30, 31; lihat SIKSA, MENYIKSA.

Dalam buku Penyingkapan, kita melihat uraian tentang hari-hari terakhir Setan dan kesudahannya. Penyingkapan melaporkan bahwa pada waktu Kristus mengambil kuasa Kerajaan, Setan dicampakkan dari surga ke bumi, tidak dapat lagi pergi ke surga, sebagaimana yang dahulu ia lakukan pada zaman Ayub dan selama berabad-abad setelah itu. (Pny 12:7-12) Setelah kekalahan itu ’waktu Setan tinggal sedikit’, dan selama waktu itu ia akan memerangi ”orang-orang yang masih tersisa dari antara benih [wanita], yang menjalankan perintah-perintah Allah dan mempunyai pekerjaan memberikan kesaksian tentang Yesus”. Karena upayanya untuk melahap orang-orang yang masih tersisa dari antara benih wanita itu, ia disebut ”naga”, penelan atau penghancur. (Pny 12:16, 17; bdk. Yer 51:34, ketika Yeremia berbicara demi Yerusalem dan Yehuda, dengan mengatakan, ”Nebukhadrezar, raja Babilon, . . . telah menelan aku bagaikan ular yang besar [atau, ”naga”, Rbi8, ctk.].”) Dalam uraian awal tentang peperangannya melawan sang wanita dan upayanya untuk melahap putranya, ia digambarkan sebagai ”seekor naga besar berwarna merah menyala”.—Pny 12:3.

Penyingkapan pasal 20 menguraikan saat manakala Setan diikat dan dilemparkan ke dalam jurang yang tidak terduga dalamnya selama seribu tahun oleh malaikat yang berkuasa—pastilah Yesus Kristus, yang memiliki kunci jurang yang tidak terduga dalamnya dan yang adalah ’benih’ yang akan meremukkan kepala Setan.—Bdk. Pny 1:18; lihat JURANG YANG TIDAK TERDUGA DALAMNYA.

Upaya terakhir Setan memuncak dalam kekalahan yang permanen. Nubuat itu mengatakan bahwa ia akan dilepaskan untuk ”waktu yang singkat” segera setelah berakhirnya Pemerintahan Seribu Tahun Kristus dan bahwa ia akan memimpin pribadi-pribadi yang suka memberontak dalam serangan lain atas kedaulatan Allah; tetapi ia dicampakkan (bersama hantu-hantunya) ke dalam danau api dan belerang, kebinasaan abadi.—Pny 20:1-3, 7-10; bdk. Mat 25:41; lihat DANAU API.

Apa

yang dimaksud dengan ’menyerahkan seseorang kepada Setan supaya daging itu binasa’?

Dalam instruksinya kepada sidang di Korintus tentang caranya menindak seorang anggota sidang yang berbuat fasik, yang melakukan inses dengan istri bapaknya, rasul Paulus menulis, ’Serahkan orang tersebut kepada Setan supaya daging itu binasa.’ (1Kor 5:5) Yang Paulus maksudkan adalah perintah untuk mengusir pria tersebut dari sidang dan memutuskan semua pergaulan dengannya. (1Kor 5:13) Dengan menyerahkannya kepada Setan berarti ia dikeluarkan dari sidang dan masuk ke dalam dunia yang allah dan penguasanya adalah Setan. Seperti ”sedikit ragi” dalam ”seluruh adonan”, orang ini adalah ”daging”, atau elemen bersifat daging di dalam sidang; dan dengan menyingkirkan pria yang melakukan hubungan inses itu, sidang yang berpikiran rohani ini akan membinasakan ”daging” dari tengah-tengah mereka. (1Kor 5:6, 7) Demikian pula, Paulus menyerahkan Himeneus dan Aleksander kepada Setan, karena mereka telah mengesampingkan iman dan hati nurani yang baik sehingga iman mereka binasa bagaikan kapal yang karam.—1Tim 1:20.

Belakangan, pria yang melakukan inses di Korintus tampaknya bertobat dari perbuatan salahnya dan membersihkan dirinya sehingga rasul Paulus terdorong untuk merekomendasikan agar dia diterima kembali ke dalam sidang. Ia mendesak mereka untuk mengampuninya dan ia memberikan salah satu alasannya, ”agar kita tidak dikalahkan oleh Setan, sebab kita bukannya tidak mengetahui siasatnya”. (2Kor 2:11) Pada peristiwa pertama, Setan telah membawa sidang ke dalam keadaan yang buruk sehingga mereka harus ditegur oleh sang rasul, sebab mereka terlalu lunak dan bahkan telah membiarkan pria yang fasik itu meneruskan prakteknya tanpa memikirkan celaan yang ditimbulkan, menjadi ”besar kepala” dengan membiarkan hal itu. (1Kor 5:2) Namun, di pihak lain, apabila mereka kemudian beralih ke ekstrem lainnya dan menolak mengampuni orang yang bertobat itu, Setan akan mengalahkan mereka dengan cara lain, yakni ia dapat memanfaatkan sikap mereka yang menjadi keras dan tidak pengampun. Melalui Firman Allah, orang-orang Kristen diterangi untuk menyadari keberadaan Setan, kuasanya, rancangan serta tujuannya, dan cara dia beroperasi, sehingga mereka dapat memerangi musuh rohani tersebut dengan persenjataan rohani yang Allah sediakan.—Ef 6:13-17.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar